Dalam kaitannya dengan imunitas, probiotik meningkatkan akses bakteri patogen ke sistem imun (Th 1 dan Th 2) sehingga mencegah reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap bakteri komensal. “Akibatnya, flora normal usus terjaga dengan baik dan berbagai reaksi inflamasi yang merugikan dapat ditekan,” papar Prof. Aziz Rani. Ditambahkan oleh gastroenterolog senior dari FKUI/RSCM itu, normalisasi sistem imun usus dan degradasi antigen yang diberikan probiotik membuat makanan ini dapat dipakai sebagai obat bagi irritable bowel syndrome atau IBS.
Salah satu genus probiotik yang sangat terkenal sejak awal dekade ke-20 adalah Lactobacillus. Makanan ini memiliki khasiat anti-inflamasi dan imunostimulator (membantu menstimulasi sistem imun) yang sangat baik. “Manfaatnya memang strain-specific,” ujar Prof. Aziz Rani. Hal itu membuat para peneliti cenderung melakukan studi mendalam terhadap masing-masing spesies atau strain. “Penggunaan single-strain lebih populer dan bagus karena dapat ditelaah dengan detail manfaat yang diberikan oleh satu strain saja,” sambungnya. Di masa kini, beberapa strain atau spesies sudah menjadi bahan makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat awam. Selain itu, beberapa strain atau spesies lagi digunakan sebagai bahan dasar produk farmasetikal. “Keduanya merupakan pendekatan yang bagus bagi dunia kesehatan. Yang pasti, tingkat keamanannya sudah teruji melalui studi klinis,” ucap Prof. Aziz Rani lagi.
Pada dasarnya, manfaat probiotik yang sangat menonjol adalah mencegah kolonisasi bakteri patogen di lambung, duodenum, ileum, dan kolon. Aksi ini akan menurunkan risiko terkena berbagai penyakit saluran cerna seperti diare akibat berbagai macam infeksi, IBS, gastritis, ulkus peptikum, sampai kanker lambung dan kolon sebagai manfaat jangka panjang. “Probiotik akan merangsang modulin bekerja mempertahankan keseimbangan ekologi saluran cerna,” papar dr. Marcellus Simadibrata, SpPD, KGEH, PhD dari FKUI/RSCM. Menambahkan apa yang telah dijelaskan seniornya, dr. Marcellus memaparkan serangkaian penyakit yang dapat diturunkan kejadiannya dengan mengonsumsi probiotik. “Frekuensi dan lama diare infeksi akut maupun kronis, diare oportunistik pada pasien HIV/ AIDS, diare akibat penggunaan antibiotik jangka panjang, serta menurunkan derajat infeksi Helicobacter pylori,” cetus peraih gelar PhD dari University of Amsterdam ini.Strain Lactobacillus reuteri merupakan salah satu strain yang paling menonjol kelebihan-kelebihannya. Hal itu ditunjukkan oleh ratusan penelitian klinis yang dilakukan para klinisi dan ahli biomedis serta nutrisi di seluruh dunia. Selain bekerja dengan menurunkan lama dan frekuensi diare dan meningkatkan sistem imun, strain ini juga menurunkan metabolit ammonium, enzim-enzim prakanker, memperbaiki profil tinja dan mencegah konstipasi, serta secara umum menurunkan insidens berbagai kanker saluran cerna. “Penelitian-penelitian terhadap strain reuteri sudah mencapai tahap meta-analisis,” cetus Ketua Perkumpulan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia ini. “Salah satu meta-analisis yang dihasilkan D’Santa pada 2002 menunjukkan manfaat probiotik yang sangat besar bagi pencegahan diare terkait antibiotik (antibiotic-related diarrhea),” lengkap dr. Marcellus. Sementara itu, ratusan penelitian lain dilakukan di berbagai pusat penelitian dan pendidikan gastroenterologi di berbagai belahan dunia.
Di RSCM sendiri, Marcellus bersama beberapa sejawat dari Divisi Infeksi Tropik Ilmu Penyakit Dalam dan Departemen Patologi Klinik RSCM juga sudah melaksanakan penelitian terhadap Lactobacillus reuteri. Hasilnya, insidens diare akut terkait antibiotik turun 9,6% pada pasien rawat inap di RSCM. Beberapa gejala juga berkurang seperti mual, muntah, kembung, dan nyeri epigastrium. “Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan probiotik protektif terhadap diare dan berbagai gejala terkait penggunaan antibiotik jangka panjang,” tegas dr. Marcellus mantap. dr. Marcellus juga menambahkan bahwa untuk penyakit-penyakit IBD (inflammatory bowel disease) seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, Lactobacillus reuteri sangat tepat dipakai sebagai maintenance therapy agar penyakit tidak berulang dan inflamasi ditekan.
Sebagai presentasi pamungkas, Karin Diderot, ahli gizi senior dari lembaga penelitian besar di Swedia, Biogaia, memaparkan penggunaan Lactobacillus reuteri secara klinik. “Hasil penelitian klinis terkait Lactobacillus reuteri sudah dipublikasikan secara resmi dalam 43 jurnal internasional dan dua tesis doktoral,” demikian ucap Diderot pagi itu. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaannya pada manusia sudah tidak perlu diragukan lagi. “Sebanyak 75% clinical trial dari semua penelitian terpublikasi resmi itu memberikan hasil yang positif terhadap penggunaan Lactobacillus reuteri,” tegas perempuan asal Malmo, Swedia, itu.
Tak berbeda dari apa yang sudah dinyatakan oleh dr. Marcellus, Diderot juga memaparkan manfaat strain reuteri pada pasien diare akut dan kronis, diare terkait kemoterapi, diare terkait antibiotik, IBS, IBD, diare terkait obat-obatan eradikasi Helicobacter pylori, serta menurunkan persentase gejala abdominal lainnya. “Diare kronis pada pasien HIV serta diare anak-anak juga sesuai mendapat Lactobacillus reuteri,” ucap Diderot. “Semuanya berdasarkan pada evidence based medicine yang berkualitas,” tambah Diderot. Penggunaannya di klinik dapat dalam bentuk produk farmasetikal dan aman dikonsumsi jangka panjang. Di Indonesia, produk berbahan dasar probiotik Lactobacillus reuteri diproduksi oleh Kalbe Farma dengan nama dagang Rillus. Sudah saatnya kesehatan saluran cerna kita berkenalan dengan probiotik. u (aswin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar